Cut Nyak Meutia
Resensi:
Suatu kenyataan yang tidak dapat di
pungkiri adalah selama perang kolonial Belanda di Aceh (1873-1942)peranan para
wanita telah turnt menentukan lamanya keberlangsungan perang tersebut. Mereka
tidak saja sebagai pemain yang pasif di balik layar, sebagai penyiap makanan di
dapur umum ataupun sebagai pendorong suami dan anaknya untuk bertempur. tetapi
lebih dari itu mereka berdampingan dengan suami dan anaknya menyandang senjata
maju ke medan perang, -membunuh musuh ataupun bersama dengan keluarganya itu di
bunuh. Tidak sedikit pula di antara mereka yang menjadi penggerak massa rakyat,
pemimpin perlawanan, berdiri di garis depan mengomandokan perang di jalan Allah
melawan kaphee Belanda yang hendak menjajah tanah airnya. Para wanita Aceh itu
telah memenuhi tugas yang diperintahkan oleh agama yang dianutnya (Islam) dan
yang selama ini telah mendarahdaging dalam seluruh hidup dan kehidupannya,
yaitu agar setiap pria dan wanita Islam siap selalu mengorbankan harta dan jiwa
mereka untuk melawan musuh yang memerangi mereka, tetapi bukan musuh yang tidak
memerangi mereka; dan dalam kenyataannya mereka tidak pernah gentar untuk
menghadapinya.
Cukup banyak pertempuran yang terjadi,
dimana para wanita terlibat didalamnya, yang sungguh mengharukan dan meneteskan
air mata, tetapi juga membanggakan generasi kita sekarang, karena
pengorbanan-pengorbanan mereka yang hanya mengenal alternatif : sahid atau
menang. Siapa pun kiranya akan tersentuh hatinya apabila mengenangkan kembali
pertempuran yang terjadi di Koto Reh daerah Gayo-Alas pada tahun 1904 yang
telah menewaskan tidak kurang dari 189 wanita di samping 313 laki-laki dan 59
anak-anak. Selama tiga bulan pertempuran di sana, akibat keganasan tentara
kolonial Belanda, 2252 pejuang Aceh menjadi suhada, sedangkan 829 di antaranya
terdiri atas para wanita dan anak-anak (38 : 256B, 27 :143). Adakah peristiwa
yang lebih mengharukan dari pada peristiwa tertangkap dan dibuangnya Cut Nyak
Dhien, seorang diri mengarungi lautan luas, dipisahkan dari kampung halaman
tempat bersemayam suami tercinta yang telah mendahuluinya, gugur sebagai kusuma
bangsa, demikian juga dengan peristiwa gugurnya suami-isteri Teungku Chiek
Mahyiddin Tiro setelah lama memimpin perjuangan, bergerilya dalam hutan
belantara di daerah-daerah pegunungan sejak dari pantai timur Aceh sampai ke
daerah Pegunungan Tangse di Pidie. Sebenarnya, tulis Zentgraaff, "tidak
mungkin untuk menggambarkan andil para wanita Acah dalam peperangan meskipun
dengan menyebutkan satu per satunya. Saya hanya ingin menegaskan, bahwa
tiap-tiap bangsa, juga bangsa kita (maksudnya Belanda) akan merasa bangga jika
dapat menunjukkan perbuatan para wanitanya yang dapat menyamai perbuatan para
wanita Aceh. Keberanian dan kesatriaan wanita Aceh melebihi wanita lain,
terutama dalam mempertahankan cita-cita kebangsaan dan keagamaannya. Mereka
tidak pernah menakut-nakuti nya, tetapi sebaliknya, mereka berperang
bersama-sama suaminya, kadang-kadang di sampingnya, bahkan juga di mukanya.
Judul : Cut Nyak Meutia
Penulis : Zakaria Ahmad, Muhammad
Ibrahim, Nasruddin Sulaiman
Cetakan Pertama : -
Penerbit : Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, Jakarta 1993
Link download mohon bersabar
Link download mohon bersabar

KOMENTAR